Teori Charles Dow (Part 3)

  • Whatsapp

Secondary MovementsYang ke dua adalah pergerakan tren sekunder. Secara harfiah, arah dari tren sekunder berlawanan dengan tren primer atau bisa dikatakan bersifat reaksioner. Di pasar yang sedang bullish, pergerakan sekunder dianggap sebagai suatu koreksi.

Pergerakan tren sekunder dapat berlaku selama beberapa minggu hingga beberapa bulan.

Bacaan Lainnya


Sumber: Stockcharts.com

Pada bulan September-96, indeks Dow Jones sempat mencatatkan harga tertingginya yang baru (new high), sehingga tren utama bisa dikatakan bullish. Primary tren ditunjukkan garis berwarna hijau dengan poin kenaikan sebanyak 1988.

Setelah itu, pada akhir bulan Maret-97 mulai terjadi penurunan selama 3 minggu yang ditunjukkan garis berwarna merah. Pergerakan tersebut dapat dianggap sebagai pergerakan tren sekunder (Secondary movement) karena tidak masuk dalam kategori fluktuasi harian.

Hamilton mencatat beberapa karakteristik dari pergerakan tren sekunder di pasar yang sedang bullish dan bearish. Karakteristik tersebut bukan merupakan aturan yang baku, melainkan hanya sebagai pedoman yang fleksibel untuk digunakan bersama dengan teknik analisis lainnya.

Tiga karakteristik utama telah tergambar pada pergerakan indeks Dow Jones di atas.

Berdasarkan pengamatan secara historis, pergerakan sekunder selalu muncul 1/3 hingga 2/3 dari gerakan utama, dengan kata lain 50% menjadi jumlah yang ideal untuk secara umum.

2. Hamilton mencatat bahwa pergerakan tren sekunder cenderung lebih cepat dan lebih tajam dari pada pergerakan tren primer yang terjadi sebelumnya. Secara visual, dapat dilihat bahwa pergerakan sekunder lebih tajam daripada tren utama.

Pada contoh gambar di atas, pergerakan dari tren utama berlangsung dari bulan Juli-96 hingga Mar-97, atau sekitar 8 bulan, yang mana tren utama mengalami kenaikan sebesar 38% (1988/5170 = 38%).

Sedangkan pergerakan pada tren sekunder, berlaku sebagai pengkoreksi dari tren utama dengan pelemahan sebesar 11,7% (842/7158 = 11,7%) dan berlangsung hanya dalam lima minggu.

3. Pada akhir pergerakan sekunder, biasanya terdapat periode-periode menjenuhkan sebelum terjadi pembalikan arah (rebound). Seperti pergerakan harga yang relatif sempit, penurunan volume, atau kombinasi dari keduanya.

Berikut adalah grafik Dow Jones secara harian yang mana menjelaskan pergerakan tren sekunder ketika pada level-level terendahnya pada bulan Apr-97.

Sumber: Stocksharts.com
Pada tanggal 7 – 10 April terdapat stagnasi volume (garis merah pada volume) pada indeks Dow Jones (DJIA). Stagnasi volume tersebut diiringi dengan pergerakan harga yang cenderung lebih rendah pada periode penurunan di periode tersebut.

Setelah tren penurunan mulai melandai dalam beberapa hari, akan ada pembalikan arah (rebound) dan Dow jones melanjutkan kenaikannya menuju level yang lebih tinggi (breakout).

Reaksi yang baru pada level yang lebih tinggi dikombinasikan dengan peningkatan volume (garis hijau pada volume), menunjukkan bahwa pergerakan tren sekunder telah berakhir dan tren utama telah kembali.

Daily FluctuationsDow memandang fluktuasi harga saham secara harian menjadi penting jika dilihat sebagai satu kesatuan, dengan kata tidak dapat berdiri sendiri. Karena fluktuasi acak pergerakan dari hari ke hari, nilai prakiraan fluktuasi harian terbatas paling baik.

Pergerakan tren sekunder dapat berlaku selama beberapa jam hingga beberapa hari, tetapi biasanya tidak lebih dari satu minggu. Terlalu berfokus pada fluktuasi harian akan menyebabkan salah perkiraan dan meningkatkan kemungkinan akan rugi.

Hanya memperhatikan pergerakan suatu saham dalam satu atau dua hari dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang tergesa-gesa yang didasarkan pada emosi semata.

Sangat penting untuk melihat seluruh gambar ketika menganalisis pergerakan harga secara harian. Seperti potongan teka-teki, beberapa bagian tidak akan ada artinya, akan tetapi potongan-potongan tersebut juga sangat penting untuk melengkapi sebuah gambar.

Pergerakan harga secara harian menjadi penting ketika digabungkan dengan hari lainnya untuk membentuk pola pada sebuah analisis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *